Percetakan Bandung Online

Oude Stadhuis Semarang D / H Van Dorp



Gedung Van Dorp, Masa Ke Masa

NV. Drukkerij G.C.T. Van Dorp & Co. Banyak disebut sebagai Gedung Van Dorp atau sebelum menjadi Museum 3D sempat disebut Gedung Merah karena cat merah yang mendominasi tembok luar Gedung tersebut.

Pada awal tahun 2020 Gedung Van Dorp mulai melakukan Revitalisasi secara bertahap dan di sebut dengan nama “OUDE STADHUIS”

Berikut ini adalah cuplikan dari sejarah Van Dorp.

Pada masanya, Van Dorp merupakan perusahaan percetakan dan publikasi ternama. Selama kurang dari satu abad, ia memproduksi bahan bacaan bermutu untuk masyarakat Hindia Belanda. Meski dimiliki oleh seorang Belanda, Van Dorp tidak hanya mencetak buku-buku berbahasa Belanda. Perusahaan yang berlokasi di Oudstadhuis Straat (sekarang Jalan Branjangan, kawasan Kota Lama Semarang) ini juga menerbitkan kitab-kitab berbahasa Jawa dan Melayu, seperti Babad Tanah Djawi versi Wedana distrik ing Magetan Raden Panji Jaya Subrata (empat jilid), Babad Pacina (terbit 1874 ) yang mengisahkan peristiwa pemberontakan orang-orang Tionghoa terhadap VOC pasca pembantaian di Batavia pada 1740, serta Serat Kancil, Awit Kancil Kalahiraken Ngantos Dumugi Pejahipun Wonten ing Nagari Mesir, Mawi Kasekaraken (1871).

Van Dorp juga pernah menerbitkan Slompret Melajoe (1860-1911), surat kabar pertama di Semarang yang menggunakan bahasa Melayu. Buku-buku dan surat kabar terbitan Van Dorp terkenal di seantero tanah Hindia dan menjadi rujukan sejumlah sarjana terkemuka, antara lain Dr. B.J.O. Schrieke dan Prof. Dr. PA. Hoessein Djajadiningrat.

NV. Drukkerij G.C.T. Van Dorp & Co, mengutip Amen Budiman, didirikan oleh G.C.T. Van Dorp, seorang Belanda totok penjilid buku yang mengadu peruntungan dengan menjadi serdadu di Hindia Belanda. Tidak menjalankan tugas sebagai tentara, dia membuka usaha percetakan dan publikasi di Semarang. Pelan-pelan usahanya maju pesat, hingga pada 1857, Van Dorp mampu membeli firma de Olifant & Co, perusahaan percetakan swasta pertama di Hindia Belanda, yang pernah menerbitkan surat kabar Semarang Nieuws en Advertentieblad (cikal bakal Koran de Locomotief). Sebagai etalase untuk menjajakan produk-produknya, Van Dorp membuka sebuah toko buku di Bodjong (sekarang Jalan Pemuda), tak jauh dari Hotel Du Pavillon.

Tahun 1900, perusahaan ini berikhtiar Perluas pasar dengan membuka cabang di Surabaya. Sepuluh tahun kemudian Van Dorp meningkatkan statusnya menjadi sebuah NV. Langkah itu disusul dengan pembaruan mesin-mesin cetak pada 1930-an. Sebagai perusahaan besar, Van Dorp sanggup mengembangkan produk-produknya melalui publikasi 50 ribu katalog yang disebarkan ke pelbagai daerah.

Ketika semakin uzur dan merasa tak sanggup bekerja lagi, Van Dorp menyerahkan pengelolaan perusahaan kepada seorang Belanda bernama Prins. Namun kepercayaan orang ini kemudian mengopernya kepada Ravenswaay dan Leeff. Terakhir, NV. Drukkerij G.C.T. Van Dorp & Co jatuh ke tangan Van Eck dan Kraaienbrink. Pasca Proklamasi Kemerdekaan RI, Van Dorp masih beroperasi. Ia baru benar-benar tancep kayon (mati total) pada akhir 1950-an, ketika aset-asetnya dinasionalisasi dan diambil alih oleh pemerintah RI. Oleh pengelola baru, usaha percetakan di Jalan Branjangan dengan bendera PT. Karya Nusantara. Adapun toko buku di Jalan Pemuda berganti nama menjadi Toko Buku Permata.

Namun di balik nama besar Van Dorp, terselip kisah muram para buruh yang bekerja di dalamnya. Dipicu oleh upah mempersembahkan upah rendah di tengah melangitnya harga kebutuhan barang, pada awal 1920, buruh Van Dorp melakukan aksi mogok kerja. Mereka menuntut peningkatan kesejahteraan dan memperbaiki kondisi kerja. Pemogokan itu kemudian diikuti oleh para buruh dari perusahaan percetakan dan publikasi lain di Semarang, seperti De Locomotief, Misset, Benjamin, Warna Warta, dan Bisschop. Aksi yang diadvokasi oleh Vakgroep Sarekat Islam Semarang Afdeeling Drukkerijen (Sarekat Islam Semarang bagian Buruh Percetakan) dan Persatoean Perkoempoelan Kaoem Boeroeh (PPKB) Vakcentrale itu berlangsung selama lebih dari dua bulan. Pemogokan berakhir, setelah Residen Semarang turun tangan hingga perusahaan-perusahaan itu memenuhi sebagian dari larangan mereka.

* dikutip dari Catatan Sejarawan Semarang, Rukardi Achmadi

source

Leave a Reply

WeCreativez WhatsApp Support
Mau order atau ada yang mau ditanyakan?, Chat langsung aja sama Admin.
👋 Hallo, ada yang bisa dibantu ?